Sabtu, 19 Juli 2008

TAWARAN UNTUK TERJUN KE POLITIK


Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan sebuah tawaran yang sangat mengejutkan sekali, bagaimana tidak, saya dicalonkan sebagai salah satu kandidat anggota legeslatif untuk fraksi PKB di wilayah Sambas. Terus terang dalam hidup aku belum pernah berpikirkan untuk masuk ke wilayah pulitik, tau-tau enggak ada angin – enggak ada hujan – ee..kok tiba-tiba ada gledek nyambar di atas kepala. Ciaat…spontan kukeluarkan jurus manusia mencakar angin. Alhasil, akupun mampu menguasai keadaan keterkejutanku itu.
Butuh beberapa hari bagiku untuk menjawab tawaran yang sangat menggiurkan itu, dan aku pun mulai menelpon teman untuk minta pendapat. Ada yang melarang tapi banyak juga yang menganjurkan untuk menyambut tawaran tersebut dengan catatan; “kalau sudah menjadi anggota dewan jangan kau lupakan perjuangan yang selama ini sudah kita rintis.” Setelah saat itu aku terus-terusan merenung, sampai-sampai istriku mengira kalau aku punya pacar baru. Dengan enteng ia berkomentar; “Kalau mau bebini agek silekan jak, sodah supan-supan beh..” katanya dengan logat Melayu kental.
Setelah dua minggu berlalu akhirnya waktu yang sudah diberikan habis, kini giliranku untuk menjawab atas tawaran di atas.
“Pak..! Sekarang ini mungkin saya belum siap untuk terjun ke wilayah pulitik praktis, namun jika diminta nyumbang untuk memikirkan PKB yang ada di Sambas InsyaAllah saya siap pak!” jawabku…akhirnya, untuk membuktikan ucapanku itu aku menulis sebuah opini, di mana sekarang ini tulisan tersebut diminta oleh tokoh-tokoh PKB yang ada di Sambas walaupun opini ini jeleknya bukan main, dan aku pun enggak tau mau diapakan tulisan tersebut, tapi satu permintaanku; “Jangan dijadikan sebagai bungkusan kacang pak ya…!
Inilah tulisannya itu…matur nuwun.

TELAAH POLITIK PKB DI SAMBAS PADA PEMILU 2009

Tidak dipungkiri memang, di dalam tubuh PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) masih terjadi sekian banyak konflik intern yang sampai sekarang masih saja berkecamuk. Naik – turun kurva garis linier PKB dalam perjalanannya menapaki percaturan politik di tanah air ini. Asumsi yang paling kuat adalah adanya intervensi dari pihak luar yang sengaja menginginkan supaya PKB keropos dari dalam yang berujung kehancuran dengan sistem pengembosan terhadap tokoh-tokoh utama PKB dalam hal ini kiai atau cendekiawan muslim yang dimilikinya.
Kita bisa berkaca dengan sejarah panjang kontoversial PKB dalam percaturan politik ini, mulai dari konflik 2001 dimana PKB pecah menjadi dua, yaitu PKB Kuningan yang dipimpin oleh KH. Abdurrahman Wahid – Alwi Shihab versus PKB pimpinan Matori Abdul Djalil. Setelah itu disusul lagi dengan permasalahan pertentangan antara kelompok pendukung dan penentang reposisi Saifullah Yusuf dari jabatannya sebagai Sekjen DPP PKB yang berujung dengan pencopotan dirinya dari kursi Sekjen DPP tersebut. Tidak berhenti sampai di situ, kembali PKB digambling dengan permasalahan lahirnya pembentukan PKB tandingan yang menelurkan PKB hasil muktamar di Semarang di bawah pimpinan Gus Dur sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid – A. Muhaimin Iskandar versus PKB hasil muktamar Surabaya. Setelah itu selesai, kembali PKB dihebohkan dengan perseteruan antara Gus Dur sendiri dengan Muhaimin Iskandar yang mengakibatkan pecahnya PKB menjadi dua antara PKB kubu Gus Dur dan PKB kubu Muhaimin, yang sampai sekarang pun masih mengisyaratkan adanya konflik. Walaupun perseteruan tersebut sudah selesai namun masih ada sinyalemen yang menunjukkan masih adanya perang urat syaraf di antara kedua tokoh tersebut. Puncaknya ketika pengambilan nomor urut partai untuk pemilu 2009 beberapa waktu lalu yang diselenggarakan oleh KPU jelas membuktikan belum dinginnya suhu di tubuh PKB sendiri.
PKB dengan segala kelebihan dan kekurangannya memang selalu menarik untuk dipelajari, dari sejak kelahirannya pada tanggal 23 Juli 1998 sudah muncul pro – kontra yang hebat. Itu semua lebih dipicu oleh kelahiran PKB sendiri yang notabene dibidani oleh PBNU. Padahal dalam muktamar NU 1984 secara tegas dinyatakan bahwa NU melepas diri dari ikatan partai tertentu dan kembali menjadi organisasi keagamaan (Jam’iyyah diniyyah). Ada fenomena menarik di balik itu semua. Di sini telah tampil dua tokoh utama Ormas besar Islam yang mendirikan partai yang tidak berasaskan Islam yaitu; Gus Dur dengan PKB-nya dan Amin Rais dengan PAN-nya. Letak perbedaan yang mencolok dan yang membedakan dari kedua tokoh tersebut adalah, Amin Rais tidak melibatkan organisasi Muhammadiyah sebagai organisasi yang secara langsung membidani berdirinya PAN, sedangkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melibatkan secara langsung organisasi NU dalam pembentukan PKB. Sekiranya Gus Dur tidak melibatkan PBNU secara langsung, dapat dipastikan tidak akan muncul perdebatan.
Sejarah yang tertorehkan itu adalah fakta, bagaimanapun masyarakat sudah mengetahui dan adalah sebuah langkah pembodohan jika kita tetap menutup-nutupi fenomena tersebut kepada publik. Yang perlu kita ambil pelajaran adalah; dapatkah kita menelaah sekaligus berfikir positif terhadap PKB dan bukan justru menonjolkan sinisme yang berlebihan terhadap partai tersebut.
PKB dalam dua pemilu berturut-turut, yaitu pemilu 1999 dan pemilu 2004 mampu menampilkan wajah yang sangat luar biasa. Saya pribadi sebagai penulis merasa salut dengan ketegaran PKB yang tidak pernah menyerah dalam menangani konflik internalnya. Di pemilu 1999 PKB sebagai partai baru adalah partai yang paling sukses dengan mengantongi suara sebanyak 12,6 persen dan berhasil meraih 51 kursi di DPR RI. Itu prestasi yang luar biasa dengan ditunjukkan dengan kemampuannya menempati posisi ke tiga setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar. Sementara pada pemilu 2004 memang ada penurunan dari suara PKB dari 12,6 persen turun menjadi 10,57 persen. Namun yang menarik adalah perolehan kursinya di DPR mengalami kenaikan satu kursi dibanding hasil pemilu 1999, dari 51 menjadi 52 kursi.
Kesuksesan tersebut lantas disempurnakan dengan berhasilnya Gus Dur yang notabene adalah deklarator berdirinya PKB sebagai Presiden RI ke empat setelah BJ Habibie. Walaupun dalam perjalanannya memegang tampuk kepresidenan, Gus Dur harus mundur dari jabatannya lantaran semakin kuatnya intervensi dan goyangan dari pihak luar. Benarkah PKB dengan sosok KH. Abdurrahman Wahid itu sering diintervensi? Jawabannya adalah benar!.
NU sebagai orang tua yang melahirkan PKB adalah sosok organisasi massa yang memiliki power luar biasa. Adalah jelas hanya dan untuk PKB sajalah sebenarnya suara orang-orang NU itu disalurkan. Fobia atau ketakutan-ketakutan dengan kebesaran Partai NU di masa silam, membawa lawan-lawan politik PKB untuk merekayasa supaya PKB menjadi ciut dan terpecah dari dalam. Setidaknya ada tiga bentuk intervensi yang dimainkan oleh mereka sejak mulai pemilu 1999 agar PKB tidak menjelma sebagai partai besar antara lain; Pertama, intervensi untuk memecah suara NU dengan membentuk partai baru yang notabene juga muncul dari orang-orang NU sendiri, dengan mendirikan sebuah partai pecahan seperti Partai Kebangkitan Umat (PKU), dan Partai Nahdlatul Umat (PNU). Kemunculan ide untuk membentuk dua partai ini jelas yaitu keinginan untuk memecah suara NU agar tidak terfokus pada satu partai yang sebenarnya memang hanya diuntukkan bagi PKB. Kedua, intervensi yang dilakukan dengan mengadu domba antara PKB dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dikarenakan pada masa rezim Orde Baru kekuatan dari PPP itu terletak di orang-orang NU sebagai mayoritas pemilih di setiap pemilu. PPP sendiri pun tidak menginginkan kekuatan politiknya melemah dengan kemunculannya PKB di panggung perpolitikan nasional. Ketakutan tersebut adalah sebuah peluang bagi lawan-lawan politik PKB untuk memperkeruh suasana dengan cara mengadu domba diantara keduannya. Ketiga, adanya bentuk kampanye yang bernada sentimen dengan dihubungkannya keakraban kedua tokoh antara Gus Dur dengan Megawati Soekarno Putri sebagai ketua umum PDIP. Statement tersebut adalah “memilih PDIP itu sama dengan memilih PKB.”
Bagaimana dengan Pemilu 2004? Ternyata intervensi tersebut masih terus saja terjadi. Setidaknya ada tiga peristiwa juga yang dilakukan oleh lawan-lawan politik PKB untuk terus memecah belah suara PKB agar tidak menjadi partai besar, apa saja itu; Pertama, digulingkannya Gus Dur dari kursi presiden pada Juli 2001. Kedua, munculnya dualisme kepemimpinan dalam tubuh PKB antara Gus Dur versus Matori Abdul Djalil. Kejadian ini membawa ketakutan tersendiri mengingat posisi Matori yang pada waktu itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinet Gotong Royong, walaupun akhirnya Gus Dur memenangkan dalam proses pengadilan. Ketiga, dengan tampilnya Saifullah Yusuf di dalam PKB yang mencalonkan dirinya sebagai ketua umum DPP PKB yang notabene dia sendiri baru seminggu keluar dari PDIP. Karena desakan kuat dari para elite politik di dalam serta desakan kuat dari para Kiai akhirnya Syaifullah mundur dari pencalonan tersebut.
Lantas apa yang terjadi pasca pemilu 2004, apakan intervensi tersebut berhenti? Jawabannya tetap tidak. Terbukti adanya indikator dari beberapa kader dan kiai PKB untuk membentuk partai tandingan yang akhirnya terbentuklah PKB hasil muktamar di Semarang di bawah pimpinan Gus Dur – A. Muhaimin Iskandar versus PKB hasil muktamar Surabaya yang berujung dengan dibubarkannya PKB tandingan tersebut setelah dikeluarkan SK Nomor M.14 – UM.06.08 tahun 2006.
Dan sampai sekarang pun di tahun 2008 intervensi terhadap PKB masih dilancarkan guna merusak citra diri dan kekuatan PKB sebagai partai besar. Adalah hal yang luar biasa ternyata PKB mampu melewati itu semua dan tetap menempati posisi ke tiga dalam dua kali pemilu di atas. Harapan saya, semoga PKB tetap diberi kekuatan untuk memecahkan segala persoalan yang selalu menggelayutinya.
***
Bagaimana posisi PKB di pemilu 2009 mendatang, serta hubungannya dengan suara di Sambas – Kalimantan Barat sendiri? Jawabanya adalah PKB tetap menempati posisi lima besar di jajaran tingkat nasional, dan di Sambas pada pemilu 2009 PKB akan mampu memperoleh kursi.
Konflik yang selalu menggelayuti PKB bukanlah hal yang aneh. Di Indonesia hanya PKB sajalah yang dalam perjalanan politiknya tidak pernah lepas dari konflik, jadi seolah-olah tanpa konflik laksana sayur tanpa garam. Bukan PKB namanya kalau tidak konflik, dan bukan Abdurrahman Wahid kalau tidak kontrofersial. Karena sampai kapanpun intervensi terhadap PKB masih terus dilancarkan sebab NU merupakan organisasi terbesar di Indonesia yang menjadi ladang empuk untuk dipermainkan. Jadi tidak mengherankan pula jika konflik yang terjadi di daerah manapun dan kebetulan ada basis NU dan PKB-nya dapat dipastikan, merekalah yang akan dikambing hitamkan.
Demikian pula konflik etnis yang terjadi di Sambas tahun 1999 silam. Terjadinya konflik etnis mampu menorehkan trauma yang luar biasa bagi masyarakat Melayu-Sambas. Trauma tersebut berimbas ke wilayah politik yang berujung dengan sinisme terhadap salah satu partai yaitu PKB, dan salah satu etnis yang bertikai tersebut memang secara mayoritas adalah orang-orang NU. Ketika rezim Orde Baru suara NU diaspirasikan ke PPP, secara otomatis jurus yang dipakai untuk menjatuhkan PPP dengan ultimatum kalau partai ini adalah partainya orang-orang ‘anu’ – sampai sekarang setelah NU melahirkan PKB otomatis pula sebutan di atas berubah menjadi PKB-lah partainya orang-orang ‘anu’. Secara kebetulan kelompok etnis yang satu ini di mata masyarakat Melayu-Sambas memang selalu membawa madharat dari pada manfaat, bahkan gara-gara mereka-lah Sambas dilanda perang antar etnis yang terjadi sepuluh tahun silam. Statement negatif ini selalu disandang hingga pada pemilu 2004 silam yang berujung dengan ketidak mampuan PKB untuk mendapatkan kursi di Dewan. Sebenarnya pernyataan seperti di atas adalah menyederhanakan permasalahan dan salah besar.
Masyarakan Sambas yang kadung termakan informasi tersebut menelan itu bulat-bulat. Tentunya situasi seperti itu sama sekali tidak menguntungkan bagi PKB terlebih lagi semakin kuatnya lawan-lawan politik mengambil keuntungan dengan keadaan tersebut. Pemahaman masyarakat tentang politik yang memang masih kurang jadi memperparah hal itu, LSM yang ingin mengusung rekonsiliasi di Sambas-pun belum memiliki keberanian untuk menggunakan politik sebagai salah satu pijakan maneuvernya, dan yang lebih dasyat lagi kurang tingginya penguasaan politik di kalangan intern PKB sendiri, dalam hal ini tokoh-tokoh PKB yang ada di Sambas. Maka tidak heran jika PKB di Sambas kurang mendapat animo masyarakat.
Sampai sekarang perang etnis tersebut belum mendapatkan perhatian serius dari para pemangku kebijakan. Keamanan dan kepentingan politik masih menjadi salah satu sebab buntunya upaya rekonsiliasi, selain adanya dugaan kuat faktor kepentingan ekonomi juga mempengarui tersendatnya upaya tersebut. Di sini PKB dengan NU-nya sebenarnya adalah korban dari permainan politik. Perasaan takut yang melanda seluruh lapisan masyarakat terhadap upaya rekonsiliasi ini hanyalah fenomena ‘balon udara.’ Mengapa seperti itu? Karena semua orang merasa takut kalau-kalau rekonsiliasi ini di hembuskan akan terjadi lagi sebuah ledakan besar yang pasti akan banyak memakan korban. Sangat tepat jika situasi ini di boncengi dengan seribu kepentingan.
Tugas berat bagi PKB di Sambas adalah membentuk opini public secara provisional dan matang untuk meyakinkan rakyat bahwa PKB adalah salah satu partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan dan pluralisme, tentunya PKB bukan milik satu etnis melainkan milik seluruh rakyat Indonesia. Tidak kalah pentingnya adalah peningkatan Sumber Daya Manusia di tubuh PKB yang harus ditingkatkan. Tanpa itu semua kemungkinan di pemilu 2009 kembali PKB akan menelan pil pahit dengan tidak mendapatkannya kursi, namun jika itu sanggup dilakukan niscaya di 2009 PKB pasti berhasil memperoleh kursi. Semoga.

Senin, 14 Juli 2008

AKU BERTANYA PADA MEDIA MASSA DI KALIMANTAN BARAT


Bukan hal yang aneh, jika manusia sekarang ini dalam hidupnya sudah mencapai tingkat ketergantungan dengan yang namanya media massa. Entah itu media cetak seperti surat kabar, majalah, buku dan lain sebagainya, atau pun media elektronik seperti televisi, radio, tape, hand phone dan masih banyak lagi. Itu semua bergerak dalam lingkaran kehidupan dari kita melek mata, sampai dipejamkannya mata kita oleh ajal. Karena sifatnya yang terus berada di samping kehidupan manusia dan keberadaannya pun sangat diperlukan, secara otomatis apa pun yang keluar dari corong media massa itu mampu membentuk arah dan cara pandang kita dalam mensikapi hidup ini. Seorang presiden mungkin tidak akan takut dengan sidang pertanggung jawaban kepresidenanya, tapi jika sudah ketemu dengan media massa tentu ia akan sangat berhati-hati – mungkin juga takut. Itu salah satu point dari kehebatan media massa. Tapi, dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk membahas tentang manfaat atau madharatnya sebuah media massa karena itu terlalu luas untuk dibahas di sini.
Beberapa waktu yang lalu tepatnya hari Sabtu 14 Juni 2008 di Pontianak, saya diundang untuk ikut dalam sebuah seminar sehari yang diselenggarakan atas kerjasama Aliansi Untuk Perdamaian dan Rekonsiliasi (ANPRI), Mitra Sekolah Masyarakat (MISEM), Institut Dayakologi, PEK-Pancur Kasih, BK3D, Gemawan, dan Segerak. Dalam seminar itu topik yang dibahas adalah Media Massa di Kalbar Menciptakan Konflik Atau Membangun Dan Memelihara Perdamaian (Peace Building). Sebuah tema yang cukup luar biasa, apalagi untuk kapasitas orang seperti aku yang kalau diukur dari segi intelektual masih di bawah standar ditambah aku bukan orang yang pandai menulis, jadi dikalangan media massa aku seperti orang kesasar yang salah masuk rumah orang untung saja tidak diteriaki copet.
Kesan pertama yang kutangkap begitu aku masuk dalam ruangan adalah minder setengah mati, bagaimana tidak, acara yang diselenggarakan itu live di salah satu televisi lokal di Pontianak, yaitu RUAI TV. Lumayan sich sebenarnya bisa numpang ngeceng sebentar di layar kaca, he..he..! Tidak hanya itu saja TVRI Pontianak, RRI, Harian Pontianak Post serta salah satu guru besar sosiologi fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNTAN Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, turut sebagai panelis diacara tersebut.
Yang beruntung mendapat nomer urut pertama untuk mempresentasikan makalahnya adalah bapak professor tersebut. Ada poin menarik ketika beliau membahas secara panjang lebar tentang makalahnya yaitu; “Hipotesis 2020.” Apanya yang menarik? Di situ beliau menuliskan bahwa pertikaian besar-besaran akan terjadi lagi di Kalimantan Barat dalam pereode ke lima pada 3 (tiga) dekade mendatang, yakni pada tahun 2020-an. Yang dijadikan acuan dasar adalah sejarah meletusnya konflik yang terjadi, dan kemudian secara kebetulan itu terjadi selama 4 (empat) periode dalam setiap 30 tahunan sekali, yaitu 1900-an, 1930-an, 1960-an dan 1990-an. Dari situlah beliau melakukan penelitian yang kemudian dijadikan sebagai hipotesis. Kontan saja kritikan meluncur, andaikan analisa bapak itu benar dan di Kalbar tahun 2020 terjadi perang maka kami akan dengan gempang menemukan siapa di balik perang tersebut, jelas jawabannya adalah bapak sendirilah yang menjadi dalangnya. Mendengar kritikan itu beliau tersenyum simpul.
Setelah profesor selesai yang mendapat giliran berikutnya adalah para panelis dari media masa, dimulai dari Harian Pontianak Post yang dianggap sebagai soko guru media masa di Kalbar, lalu TVRI Pontianak, kemudian RRI dan yang terakhir adalah RUAI TV. Semua mengatakan ketika terjadi konflik di Kalbar, media masa sudah menempatkan posisinya sebagai corong masyarakat yang adil serta menjunjung tinggi profesionalitas. Mereka membantah keras ketika ada salah seorang mengkritik terhadap Pontianak Post yang pada waktu itu masih bernama Harian Akcaya, ketika perang 1999 meletus media tidak bisa menempatkan atau mengambil keputusan yang arif untuk memuat/ memberitakan kejadian-kejadian, mana yang sifatnya news atau tidak. Segala sumber berita dimuat tanpa memilah-milah. Sebagai contoh Akcaya pernah memuat pemberitaan mengenai rencana penyerbuan balik oleh orang-orang Madura kepada orang-orang Melayu, atau rencana-rencana yang sifatnya memprovokasi dll. Dan ternyata masyarakat pada waktu itu diserang ketakutan-ketakutan yang ternyata sumbernya dari media masa sendiri. Itu membuktikan jelas ketidak provisionalan media. Atas pertanyaan ini mereka membantah dengan keras. Entah mana yang benar akupun tidak mengetahuinya, karena kebetulan saat itu aku masih di Yogyakarta sebagai mahasiswa yang super malas.
Ketika giliran RUAI TV berbicara, mereka lebih banyak membahas tentang simbol-simbol filosofis yang tergambar sebagai logo televise tersebut. Menurutnya, hanya tiga etnis besar sajalah yaitu Melayu, Dayak dan Cina yang mampu mengkaunter segala konflik. Kontan saja metode berfikir seperti itu mendapatkan sanggahan keras dari para peserta yang ikut dalam seminar. Alhasil, aku pun sekali lagi tidak mendapatkan poin yang menggembirakan.
Setelah dua jam lebih acara berlangsung, ternyata volume pembahasan yang disajikan hanya berputar-putar tentang masalah yang tidak terlalu besar yaitu konflik yang terjadi di Pontianak, yang disebut “Konflik Gang 16”. Mengapa hanya konflik kecil yang dibicarakan di sini, sementara tragedi Sambas yang sudah terjadi sepuluh tahun yang lalu dan bahkan dunia pun mengetahuinya tidak dibahas serius di sini dan hanya sekilas saja disinggung? Sementara kasus gang 16 sendiri yang aku pun saja tidak mengetahuinya kok setengah mati dibahas? Dengan lantang aku bertanya tentang itu. Ujung-ujungnya aku pun tau, ternyata belum ada keberanian. Semoga tahun 2020 Kalimantan Barat tidak akan terjadi perang seperti yang digambarkan profesor di atas, namun sebaliknya akan terkuak misteri kabut yang membungkus rekonsiliasi ini dengan kegelapannya menuju jalan terang yaitu “Damai”. Amin.

INVISIBLE POWER VS REKONSILIASI


Seluruh manusia di jagat bumi ini, baik pria atau wanita, dewasa maupun anak-anak bahkan mungkin binatang pun mempunyai ketakutan terhadap yang namanya hantu atau siluman. Secara umum semua berpendapat bahwa ia adalah sejenis makhluk halus, secara harfiah ada, namun tak mampu untuk kita lihat alias sembunyi atau terselubung. Islam sangat jelas berbicara tentang masalah ini. Dan karena tuntutan dari ilmu pengetahuan yang modern dan empiris maka kita menjadi kerepotan untuk memetakan keberadaannya.
Kemudian, istilah tersebut diadopsi (dianalogikan) untuk bermacam fenomena atau kejadian yang terpampang di depan mata kita, benar-benar nyata, menyentuh bahkan mungkin sedang melanda kita, tetapi memiliki sifat yang tidak tersentuh, benar-benar rahasia dan tabu untuk kita ucapkan. Ada konsekwensi tegas apabila kita berani untuk membongkar atau mengangkat sifat silumannya itu.
Sebagai contoh, kita sering mendengar istilah manusia siluman (invisible man), tangan siluman (invisible hand), kekuatan atau kekuasaan tersembunyi (invisible power), kejahatan terselubung (invisible/hidden crime), dan sebagainya sesuai dengan konteks yang mengiringinya. Tetapi yang perlu digaris bawahi semua itu mengacu kepada sesuatu yang menakutkan, berbahaya, dan kekuasaan besar yang menekan. Dalam hal ini adalah kekuasaan atau kekuatan dalam konteks politik, namun saya ingin mengajak melihat persoalan ini dari sisi budaya politik.
Jum’at 30 Mei 2008 di Pontianak, saya ikut hadir dalam sebuah seminar sehari yang diselenggarakan oleh Yayasan Swadaya Dian Khatulistiwa (YSDK) bekerjasama dengan CORDAID sebuah LSM Internasional dari Belanda, dan kebetulan saya ditunjuk sebagai moderator di sisen kedua, mengangkat sebuah tema yang cukup menarik yaitu; Pengembangan Kebijakan Pembangunan Perdamaian Berkelanjutan di Kalimantan Barat. Hadir di situ Kepala Badan Kesbanglinmas Prov Kalbar Toto WD, S.Sos namun diwakili oleh Drs. Usmandi (yang membacakan materi dalam seminar itu), Ahmad Shiddiq Anggota perwakilan Komnas HAM Kalbar, tokoh agama, anggota legislatif, masyarakat, aktivis perempuan, akademisi dll.
Materi yang dibacakan menyangkut tentang komitmen pemerintah terhadap Perda Prov Kalbar No. 10/2005 tentang membangun harmonisasi antar etnis di Kalbar masuk dalam RPJMD Prov Kalbar 2006-2008 yang telah menetapkan visi pembangunan daerah, yaitu terwujudnya masyarakat Kalbar yang harmonis dalam etnis, maju dalam usaha dan tertib dalam pemerintahan. (Pontianak Post 31 Mei 2008)
Bukan rahasial lagi bagi kita mungkin juga bagi dunia, bahwa Kalimantan Barat tepatnya di daerah Sambas pernah tertorehkan sejarah pahit sekaligus berdarah tepatnya tahun 1999, yaitu konflik etnis Melayu (Sambas) dengan etnis Madura. Entah berapa ribu nyawa melayang dan berapa banyak jumlah kerugian materi atau infrastruktur (rumah, tanah, binatang terbak dll) yang diakibatkan dari tragedi perang tersebut. Maka tidak mengherankan Sambas di mata pemerintahan pusat (Jakarta) dikategorikan sebagai ‘kawasan merah’ yang perlu mendapatkan prioritas khusus dalam hal penanganan konflik. Bukan suatu prestasi yang bisa diceritakan untuk anak cucu.
Sampai tahun ini yaitu 2008 permasalahan yang pernah tertorehkan tidak ada jeluntrungnya (penyelesaian). Memang sudah sepuluh tahun teragedi itu berakhir dalam arti perang fisik, namun perang yang bersifat non fisik – universal dalam artian mencakup seluruh aspek kehidupan manusia bisa dikatakan belum berhenti. Akhirnya muncul beberapa pertanyaan yang sangat wajar sekali dari setiap akal dan pikiran manusia, yaitu kenapa? Dan apa yang terjadi?. Seharusnya pemerintah jangan tersinggung – apalagi sampai dikatakan SARA apabila ada beberapa masyarakat yang mencoba memberanikan diri untuk menggelitik para pemangku kebijakan biar mau menjelaskan permasalahan ini secara serius. Dengan catatan ‘jangan sekali-kali diboncengi dengan muatan politik kepentingan’ sebab yakinlah rakyat pasti akan kecewa.
Point lain dari seminar sehari tersebut yang berhasil diungkapkan adalah permasalahan HAM. Sesuai dengan yang di tuturkan oleh Ahmad Siddiq, bahwa pembangunan perdamaian (peace building) di Kalimantan Barat mengalami stagnasi, bahkan lebih ironisnya lagi kebijakan pembangunan di Kalbar banyak yang tidak berspektif HAM dalam hal ini diabaikan, dirahasiakan, disilumankan, ditabukan dll. Sampai sekarang semuanya masih ruwet dan membingungkan. Kekuatan apa yang mengendon di balik itu semua? Belum terkuak.
Ada semacam asumsi dasar yang membuat kita jadi sedikit garuk-garuk kepala/berpikir, apa benar permasalahan ini oleh pihak pemerintah dicuekin begitu saja, ditutupi atau sengaja ditutup-tutupi mungkin, atau ada kekuatan dari kekuasaan yang besar dan kuat yang secara langsung atau tidak kita sadari justru menjadi dalang atas buntunya jalan menuju perdamaian di Sambas ini, atau barang kali ada istilah yang lebih ngetren yaitu ‘biar alamiah’ nanti toh sekian tahun atau sekian generasi yang akan datang peristiwa ini pun akan terlupakan, lagian enggak ada kok yang berani bertanggung jawab. Apa memang seperti itu? ini menguji andrenalin kita kata Aris Bahariyono sebagai koordinator program.
Kembali ke konsep awal. Siluman atau hantu, setan, dedemit, gendoruwo, wewe gombel, kolor ijo, kolor biru, kolor kuning sampai kolor bontex dan seribu jenis namanya itu, memiliki satu visi yang jelas, yaitu menyeret manusia untuk keluar dari jalur yang sudah ditetapkan oleh Tuhan melalui sebuah ketentuan hukum yang tegas, yaitu agama. Ketika manusia terseret dari jalur agama, maka manusia berada dalam posisi yang mundur dalam arti terlempar dari level ketakwaan. Sementara bagi setan ia berada dalam posisi maju ketika berhasil menyeret manusia, dalam arti juga ia masuk pada level yang lebih tinggi. Demikian seterusnya.
Untuk membelokkan rel/jalur manusia yang sudah ditentukan agama tersebut, tentunya si hantu harus memiliki invisible power kekuasaan/kekuatan tersembunyi. Itulah sebabnya banyak manusia yang tidak mampu untuk melawan, apalagi ditambah dengan minimnya kekuatan agama yang bersumber dari Allah SWT yang hanya sekian persen ia miliki.
Dalam dunia politik pun demikian, kekuasaan yang kuat secara langsung atau tidak mampu mengontrol segalanya. Apa hubungan itu semua dengan perdamaian di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Sambas? Kecurigaan besar adalah tertuju pada Proyek Kelapa Sawit yang sedang dikembangkan di Sambas. Why?
Pertama, pemilik modal besar sengaja menskinariokan ketidak amanan itu agar tidak terjadi persaingan proyek (antara proyek sawit dengan proyek non sawit). Sudah bukan rahasia lagi kalau Sambas dalam rencana ke depan akan dijadikan kawasan Hutan Sawit dalam skala besar-besaran dengan proyek seluas 600 ribu hektar. Subhana Allah, terus terang saya tidak bisa membayangkan apa jadinya Sambas nanti. Hanya segelintir orang saja yang menikmati kelezatan proyek ini yang tentunya si pemilik proyek dan kroni-kroninya, selebihnya adalah kehancuran total. Tanah yang mati lantaran habis unsur haranya termakan sawit, kemudian disusul dengan krisis air yang semakin parah terhisap habis oleh sawit. Sambas akan menjelma sebagai daerah tandus yang menjanjikan kematian bagi anak cucu, karena masa produktifitas dari sawit sendiri hanya sekitar 25 sampai 30 tahun saja. Coba anda bayangkan! Belum lagi ditambah dengan persoalan hak milik tanah karena ada sengketa serius yang terjadi di Sambas akhir-akhir ini, sampai-sampai masyarakat ramai berdemonstrasi menuntut hak tanah mereka karena merasa tercaplok oleh proyek. Kalau Sambas masuk dalam kategori aman tentunya persaingan akan muncul hingga tidak ada lagi yang namanya monopoli proyek.
Kedua, kalau keadaan di atas bisa dikontrol tentunya masyarakat yang notabene adalah orang-orang Suku Madura, dalam hal ini korban kerusuhan 1999 yang mempunyai tanah di Sambas akan beramai-ramai menuntut hak tanah mereka yang selama ini ternyata masih belum ada penyelesaian yang dilakukan oleh pemerintah daerah secara jelas. Dan diperparah lagi adanya beberapa oknum masyarakat Melayu sendiri atau bisa dibilang banyak sekali, yang secara terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi mengambil tanah orang-orang Madura yang pada waktu itu memang harus mereka tinggalkan. Dus, Proses untuk mengambil atau menjual tanah itu sendiri pun sampai sekarang masih sangat-sangatlah sulit. Jangankan untuk mengurus tanah, ingin bersilaturrahmi ke sanak famili atau tradisi ziarah kubur ke Sambas pun mereka harus berpikir seribu kali. Mulai dari unsur terbawah sampai teratas dari hirarkhi kepemerintahan tidak ada satu pun yang berani menjamin keselamatan mereka, apa lagi untuk mengurus ini-itu.
Ketiga, lambatnya proses rekonsiliasi dikarenakan sudah saking tingginya unsur KKN. Mengapa demikian? Jelas, adanya kong-kalikong antara pengusaha proyek dan pemerintah. Memang benar tidak ada yang berani menjamin keselamatan rakyat Madura untuk kembali ke Sambas, bahkan dari masyarakat Maduranya pun keinginan untuk kembali sudah tidak ada lagi. Bukan itu permasalahannya, tetapi pengangkangan hak itu lah yang perlu dipertanyakan. Kalau mau jujur, keinginan untuk kembali itu tetap ada kok, manusia mana sich yang dalam hidupnya tidak pernah memiliki perasaan rindu akan kampung halamannya. Mereka banyak yang terlahir di Sambas, tumbuh besar di Sambas melakukan perkawinan campuran (Madura – Melayu/ Madura – Dayak dll), bahkan banyak orang Madura Sambas yang sampai sekarang tidak pernah menginjakkan kakinya ke tanah Madura yang asli.
Kenapa sampai bisa seperti itu? Ada kekuatan apa? Pertanyaan besar itu sempat saya luncurkan, namun tidak ada satu pun jawaban yang bisa memuaskan. Selama ini prinsip pluralisme yang berkembang di Kalimantan Barat pada umumnya dan Sambas khususnya tidak lebih hanya melibatkan tiga etnis besar saja yaitu Melayu, Dayak dan Cina. Kalau tiga etnis besar itu sepakan untuk bergerak, maka konflik yang ada di bumi Borneo ini akan segera tertuntaskan. Apa memang demikian? Bukankah Kalimantan Barat dihuni oleh banyak sekali etnis, kalau begitu apa arti etnis yang lain? Apakah Jawa hanya sebagai tukang bakso kemudian punya ide kreatif sedikit mengembangkan odong-odong, lantas Bugis sebagai nelayan miskin yang saban hari bisa-nya cuma cari ikan teri melulu, lalu Madura selain selalu buat onar katanya bisa-nya hanya cari-cari besi bekas lantas dioleh menjadi palu kemudian dipakai untuk memukul kepala Madura sendiri biar benjut se-benjut-benjutnya and so..and so?
Intinya, acara seminar sehari tersebut memang kami belum mampu menemukan komitmen pemerintah yang konkrit, namun minimal kami sudah berani menggugah itu semua. Apakah ada perubahan atau tidak, tanyakan pada sawit yang bergoyang.

Minggu, 08 Juni 2008

AIR MATA MENTARI


Oleh: Achmad Ridwan

Mentari menangis di pagi yang indah itu, kala kepodang kuning hinggap di pucuk sawit muda sambil menyisir sayap yang bermahkotakan angkasa. Keharuman serbuk sari kembang melur, memikat sekumpulan kupu-kupu ringan dalam kehidupan yang elok penuh warna-warni untuk menikmati sarinya. Tak luput dari itu, seratus embun pagi enggan untuk pergi sebelum mempersembahkan kesejukannya kepada pucuk dedaunan, karena ingin bercanda sejenak dengan surya yang baru selangkah jauhnya dengan bumi. Alam berusaha menitipkan ciuman dari wajahnya yang ayu kepadamu, Mentari! “Di beranda rumahmu kenapa engkau menangis?”
Gadis kecil itu sekarang mulai tumbuh dewasa, dengan rambut lurus bagai disisir angin berkibaran memberi daya tarik tersendiri, kulit langsat-manis ditambah dengan keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab, laksana lukisan Sang Pencipta yang Maha Indah. Tubuhnya tumbuh berubah menjadi bidadari yang sedang mekar, ia gadisku yang kini menginjak usia tujuh belasan.
“Engkau seharusnya tidak bersedih karena kesedihan itu tidak cocok untuk menghiasi senyuman dengan lesung pipit dan bibir tipismu Mentari.” Aku mengadu pada bumi yang berselimut kabut di tepian Kabupaten Pontianak.
“Aku menunggu ceritamu di 19 Januari 1999 itu sahabat, engkaulah yang dengan sabar mendengarkan cerita ibuku kala keputus asaan menderanya dengan dasyat. Yach..hanya engkau! Sampaikan itu kepadaku!” Mentariku menjawab dalam linangan air mata.
“Sayang, ketahuilah olehmu cerita itu begitu pahit untuk kau dengar. Jangan kau rusak kelembutan pagi ini dengan cerita pilu. Sebab sejarah itu nanti akan merong-rong akal dan pikiranmu sampai ke dasar samudera kesadaran, laksana rayap memakan sepertiga meranti tua itu, kekasih. Jangan!” Lanjutku meminta perhatiannya.
Aku selalu tak sanggup untuk mengenang peristiwa itu, dan rasa ketidak sanggupanku semakin bertambah hingga membuat tubuh ini semakin terpuruk dalam lingkaran kenestapaan yang panjang. Tragedi itu tergurat jelas dalam setiap detail ingatanku dan ratusan ingatan saudara-saudaraku yang dalam hidupnya terus dikelilingi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum tuntas. Aku semakin meringkuk di sini. ‘Di relokasi korban tragedi berdarah Kampung Mekar Sari.’ Ia adalah saksi perekam nyanyian jerit hati yang menyayat, melebihi suara lolong serigala dalam dunia malam hutan belantara Khatulistiwa.
Di pagi ini, aku harus bercerita mengenai itu, tetapi sanggupkah aku?
Seperti biasa, setiap minggu pagi di beranda rumah yang berukuran tidak lebih dari 12x20 meter persegi, Mentari menungguku.
Rumah itu sungguh kecil. Aku tak pernah menganggapnya rumah tapi tempat pembuangan sampah. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada ruang tamu, tak ada sova, apalagi sederet lukisan indah penghias dinding. Hanya sebuah kamar dan seonggok perkakas alat dapur yang sedikit berkarat. Tak ada sumur dan wc, di sana mereka menjalani hidup dan terus berusaha menggapai impian yang terkadang gelap. Dengan sebatang pohan nangka muda yang belum berbuah di halaman dan tiga batang bunga kertas ditambah serumpun bunga melur, mencoba menghias dan memberikan keharuman sekitar. Aku melihatnya bukan sebagai keindahan melainkan sebuah keterpaksaan.
Mentari selalu menunggu ceritaku, persis seperti ribuan manusia-manusia kota menunggu koran dengan kehangatan secangkir kopi di saat yang sama. Persahabatan kami terjalin mesra dalam ikatan kemanusiaan.
Sudah seratus delapan puluh empat pagi kami lalui sejak perkenalan itu. Engkau selalu mendengar cerita indah dan ketenteraman Surga Firdaus. Kali ini engkau menagihku. Dan aku pun menyanggupi.
“Mentari, engkau terlahir bukan di sini, melainkan di sebuah desa yang jaraknya jauh tersekat oleh hamparan pulau. Di Rambeyan engkau lahir.” Aku memulai bercerita, dan ia pun membetulkan posisi duduknya hingga kami saling berhadapan. Sementara puluhan petani itu mulai melangkahkan kakinya menuju pematang, untuk mengolah tanah gambut menjadi butiran-butiran nasi yang mengisi perut biar tidak tergerut. Sungguh perjuangan yang berat.
“Aku mendengar kisah ini dari ibumu kala engkau masih merah, dengan darah yang belum tuntas benar dan air susu yang baru keluar tiga sampai empat tetes. Demi keselamatan dirinya dan kamu dari kekejaman perang; engkau dibawa mengungsi walau usiamu baru tiga hari.” Suaraku tersekat dalam himpitan dada yang perih, sejenak aku berhenti dan menarik nafas panjang untuk melenyapkan rasa itu.
Di tempat itu lah segala sesuatunya bermula. Malam itu sehari sebelum umat Islam merayakan kemenangan di Idul Fitri, tatkala ribuan insan beriman tinggal selangkah lagi menuju kemenangan, dalam perjuangannya mematahkan bujuk rayu setan melalui segentong pundi-pundi kenikmatan duniawi, sejarah perang Sambas tertoreh.
“The clash of civilitation! benturan peradaban” kulanjutkan cerita ini, berat dan penuh tekanan.
Malam itu, di dusun Setia Dharma Desa Parit Setia, terdengar teriakan minta tolong dari seorang warga yang melihat sekelebat orang masuk ke dalam rumahnya. Teriakan itu membangunkan para peronda untuk mendatangi asal suara itu dan melakukan pengepungan. Adalah Hasan, pemuda dari Desa Rambeyan tertangkap, dan oleh warga ia diamankan selanjutnya akan diserahkan kepada polisi pada keesokan harinya.
Namun apa yang terjadi malam itu sungguh berlainan dengan issu yang beredar di Rambeyan, bahwa Hasan telah disiksa oleh warga Parit Setia.
Adzan sholat Ashar berkumandang memanggil umat untuk bersujud menyerahkan jiwa dan raga ke Ilahi Robbi, laksana badai tiba-tiba menerjang dua ratus lebih tubuh yang dirasuki amarah, menghantam dan membabat mereka. Celurit dan golok berayun merobohkan tubuh-tubuh yang berusaha menghadang. Tiga nyawa melayang dari ubun-ubun warga Parit Setia di Ashar itu.
Firman-Nya menguap. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Sungguh lafi khusrin yang kutangkap, kerugian dan kehampaan terus menyelimuti perjalanan sejarah itu.
Api mulai terpercikkan. Ilalang kering terbakar merambat ke segala penjuru kehidupan yang di bawa angin. Menghembuskan panas. Memancarkan kilatan-kilatan lidah Dajjal. Kemudian menjelma menjadi burung nazar.
Tragedi Parit Setia, memicu segalanya.
Di sore itu, Minggu 21 Februari 1999 di Tebas, Rodi mengamuk. Setelah Bujang Lebik kernet bus meminta ongkos pembayaran atas dipakainya jasa transportasi, bukan bayaran yang diterima, namun celurit yang berkelebat membabat tangan dan kaki kanan Bujang. Laksana angin kisah itu menyebar ke seluruh Sambas. Bujang Lebik di issukan dibunuh oleh Rodi. Warga marah. Sungguh orang-orang etnis itu tidak bisa menghargai budaya orang lain, kemana pun mereka pergi celurit selalu ada di balik pinggang. Opini masyarakat mulai menyeruak. Bagai bara dalam sekam yang tersiram minyak, masyarakat yang masih marah dalam tragedi Parit Setia makin memuncak, menerobos mengoyakkan kesadaran dan membuangkan rasa kemanusiaan.
Senin 22 Februari di tengah malam, hanya ada satu bintang muncul karena musnah tersapu badai yang membawa dendam. Tiga ratus orang mengepung Rodi dalam wajah yang bertopengkan kebengisan. Adalah senapan lantak yang menyambut hingga pelipis ini tersayat dan justru dari sinilah dendam kesumat mulai membara dalam panas yang menghanguskan.
Kenapa engkau bernama Rodi? Haruskah karena kamu tragedi ini tertorehkan? Semuanya terjadi dengan cepat.
Perang berkecamuk di pesisir pantai. Di Tebas, Pemangkat, Jawai, Sambas, Selakau – sang nazar terus mengepakkan sayap mengikuti bau anyir darah, berputar di angkasa merah sambil mencakar batu-batu. Bau itu terus merambat masuk wilayah Samalantan dan Monterado. Kemarahan berkecamuk di Desa Jirak, Merabu, Kampung Jawai, dan seluruh jagat di bumi Borneo.
Sang Nazar memakan bangkai di Semparuk, Kelambu, Penjajab dan Tebas. Sejuta galon darah tersiramkan di tanah, cacing dan lalat menggeliat dan menari diantara setumpuk otak yang terburai melebihi gundukan pasir di tepian laut lepas. Ber mil-mil jauhnya, sungai-sungai menghanyutkan kepala yang disimpan di balik belukar dan pohon tumbang, lalu membusuk memberikan aroma kengerian kepada angin dengan harapan tercium oleh wanginya kesturi. Engkau mati di negeri yang berjarak ribuan kilo meter dari bangsa asalmu, Madura!
Sejenak aku berhenti menerawang dan tenggelam dalam ngilu.
Selang sehari berikutnya, perang bergerak dan mengibarkan benderanya di tanah Pemangkat. Puting beliung belum reda dan terus menyapu kesadaran dengan hembusan angin yang bergemuruh melebihi ledak, melengking melebihi jeritan, meraung melebihi badai, dan terkapar melebihi maut. Api membakar tiga puluh tiga rumah dan menerjangkan berpuluh nyawa di siang itu. Pedang, klewang, senapan lantak, kapak, belati, panah semuanya membabat dengan mata terpejam sambil tidak menghiraukan ayat-ayat. Semua terus mengibarkan panji-panji putih. “Entah sampai kapan?” Aku mengadu pada Mentari.
Mentari menggigil, ia menggeserkan tubuhnya sejengkal dari ku. Ditatap sekumpulan kumbang sawah terbang dengan meninggalkan suara berdengung menyelinap di kedua telinga kami. Rambutnya yang lurus bagai disisir angin tiba-tiba berubah menjadi belati yang menusuk jantungku. Kepodang kuning yang tadi hinggap di sawit muda, kini menjelma menjadi rajawali dengan cakar yang siap mencabik kulit-kulitku. Dengan gagap aku merayu Mentari.
“Hukum tak mampu menghukum kesadaran yang mulai lepas Mentari, dan segalanya tak terhindarkan. Empat hari perang itu terjadi. Namun di empat kehidupan ingatan itu tak akan hilang. Air mata menetes terbawa oleh tetesan darah saudara-saudaraku se-iman yang mulai kering, maka tabahkanlah hatimu. Jangan salahkan agama. Ini semua hanya kekhilafan dan keangkuhan manusia.” Mentari mendekapku dalam rengkuhan yang gamang, sambil menyeka keperihan yang mengendon dalam jiwa, ia pun berdendang “Satu-satu, daun berguguran, jatuh ke bumi, dimakan usia, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda…” Aku teringat akan lagumu kawan.
Di beranda rumahmu aku pun menangis. “Aku teringat akan ibumu Mentari.”
Nurjati! Baru kemarin engkau melahirkan. Dokter dan bidan belum menyuruhmu untuk pulang, sementara selang oksigen masih menempel di kedua rongga pernafasanmu. Tubuhmu rapuh, melebihi kerapuhan ranting kering. Darah persalinanmu belum tuntas, sementara air susumu baru tiga sampai empat tetes memberi kehidupan pada anakmu. Kini mengapa engkau meringkuk di Mekar Sari?
“Perang membawaku ke sini Along” Nurjati menjelaskan kepada ku di suatu hari tepat enam tahun yang lalu. “Rumahku terbakar. Entah berapa puluh nyawa melayang. Lelaki, perempuan, orang tua bahkan sebagian anak-anak pun tidak luput dari amukan. Mereka mati sebelum sempat bertanya “Engkau siapa? Ada apa ini? Apa salahku? Kenapa…? Suamiku pun begitu. Aku hanya membawa dia, si bayi mungil yang kuajak berlari di titian kematian walau baru kemarin ia hidup, karena aku tak mau ia mati kembali. Aku akan melawan ketakutan, mengumpulkan tenaga pada tulang-tulangku yang pucat pasi untuk berani berlari walau rahimku terbakar. Aku ingin Mentari senyum di pagi esok.”
“Di tempat pengungsian ini, aku dan sekian puluh ribu saudara Maduraku meminta perlindungan, di GOR Pangsuma perjuangan kami belum usai untuk melawan kematian. Bukan senjata, namun kelaparan, gizi buruk, sanitasi dan sejuta penyakit berusaha merenggut nyawa kami, hanya Mentari yang memberiku kekuatan.” Nurjati menangis mengenang itu.
“Tapi itu masa lalu Along, kini aku dan mereka sudah menang melawan penderitaan. Kami bangun hidup ini dengan kaki-kaki kami sendiri, tanpa putus asa. Dan yang penting bagiku adalah Mentari tetap tersenyum di tiap pagi.” Ku ucapkan kalimat itu dengan suara lantang sampai tiga kali, dan ia pun bangkit.
Mentari berjalan empat langkah mendekati pohon nangka muda itu, ia keluarkan secarik kertas lantas menulis sebuah puisi dengan polpen yang tak bertutup di antara cabang pohon yang rendah. Dan sekian menit berikutnya sebuah puisi tertulis. Sedikit dan sederhana, namun memberi arti. Ia tempel puisinya di batang dengan kekuatan di antara keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab. Aku membaca.
“Ibuku terjungkal hidupnya di sini. Di kampung ini. Yang berderet seratus duapuluh rumah tanpa kepastian. Kecuali ilalang liar dan hutan keras untuk di olah sebagai ladang di tanah gambut khatulistiwa. Di mana mataharinya mampu membakar batu-batu menjadi sekubik abu yang membumbungkan berlaksa-laksa kabut asap. Bangkitkan aku anak-anakmu ibu. Dengan cinta bukan peperangan…”
Masihkah engkau berduka Mentari?
Tidak!.....

(Penulis adalah pengelola sebuah Lembaga Pendidikan Al-Kautsar dan Sanggar Teater Babak di Pemangkat RT 1/RW 1 No. 06)lihat cerpenku di cerpen.net

Minggu, 25 Mei 2008

BIARKAN CELURIT ITU BERSAKSI

Oleh: Achmad Ridwan

Matahari sudah lama tenggelam, tepat saat menunjukkan pukul 22.00. Kembali lelaki itu keluar dari persembunyian. Bagai kelelawar ia terus bergerak menyibakkan ilalang di antara pepohonan yang rapat. Sendiri, hanya suara sunyi yang menemani.
Tiba-tiba puluhan cahaya lampu sorot berkilauan, berputar laksana sirine menerobos kesegala penjuru, di antara ilalang dan pepohonan. Cahaya itu kian mendekat. Terdengar pula teriakan orang-orang “cari sampai dapat..! jangan biarkan manusia itu lolos! ayo terus carii..!” teriak yang lain menimpali hingga membuat pengejaran itu semakin menakutkan.
Bagai disambar petir lelaki itu tersentak, dengan cepat dibenamkan tubuhnya ke lumpur kali yang berbau busuk, bau kematian menusuk, untuk mengelabui masa agar tak terlihat. Setelah dirasa aman, tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang pekat, penuh duri, batu-batu dan pohon yang tumbang, ia berlari sekencang-kencangnya sambil menggenggamku.
Darah ini sudah lama mengering dari tubuhku. Aku ternoda. Aku adalah makhuluk laknat yang terciptakan.
Ia tersengal. Sekilas kutangkap teror yang teramat dasyat dari raut wajah yang penuh ketakutan itu. Tiba-tiba ia berhenti, sepasang matanya yang tajam berusaha menembus kepekatan malam. Ia menoleh, menyelidik di sekeliling sambil terus mendengus dengan nafas yang boros. Telinganya berusaha menangkap suara-suara sekecil apapun, tak ada yang terlihat, tak ada yang terdengar, jantungnya begitu cepat berdegup.
Aku kedinginan. Sudah tiga hari - tiga malam ia diburu akibat peperangan besar itu. Dan tubuhku tak pernah berhenti diseretnya. Entah sampai kapan.
Cerita ini terjadi di sebuah pinggiran kota kecil yang tidak jauh dari negeri seberang. Bermula atas matinya Muhidi Guntur, preman gondrong yang malam itu ia dengan sebelas kawan-kawannya mabok di sebuah warung minuman. Tak jelas apa yang menjadi permasalahan tiba-tiba sekelompok anak muda itu mengamuk sejadi-jadinya. Mereka menghancurkan semua yang ada di situ, membanting gelas, mematahkan dan membalikkan meja kursi, menendang dan memukul orang-orang yang kebetulan sedang minum walau mereka tak tahu menahu, menghantam kepala si Maman dengan botol bekas minuman keras hingga kepalanya gegar otak dan terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit.
Tidak hannya itu mereka juga mengamuk di terminak induk. Dua orang sopir bus dan seorang tukang becak juga tak luput dari amukan mereka. Ketiganya tergeletak pingsan setelah beberapa bogem mentah dan sebuah hantaman benda keras mendarat di kepala mereka. Tiga orang penduduk dan didampingi dua polisi datang untuk melerai dan mengamankan situasi, mereka mencoba untuk menghalangi apa yang mereka ingin lakukan. Namun semuanya harus berakhir di rumah sakit dalam perkelahian yang tidak seimbang itu. Dan di akhir amukannya Muhidi Guntur dan sebelas kawannya membakar tempat itu sebagai pelampiasan sikap marahnya atas terlukanya Ali Botak, sahabat sejatinya yang dituduh mencuri di salah satu rumah warga, dan pulang dalam keadaan babak belur. Menurut pengakuannya ia dianiaya oleh pemuda kota tersebut.
Terlepas benar atau tidaknya pengakuan Ali Botak, yang pasti seluruh kota seketika terhenyak mendengar terminal dibakar oleh para preman yang dipimpin oleh Muhidi Guntur. Sembilan orang masuk rumah sakit, dua diantaranya adalah anggota kepolisian. Karuan saja seluruh masyarakat menjadi marah.
Di pagi itu, dua puluh delapan orang yang rata-rata adalah pemuda usia sekitar duapuluh limaan berniat balas dendam. Dicarilah Muhidi Guntur dan gengnya ke segala penjuru kota. Polisi tak kuasa menahan masa yang sudah terlanjur marah, dan kebetulan mereka geram juga sebab dua anggotanya menjadi korban akibat aksi brutal dari preman-preman yang dipimpin Muhidi Guntur.
Tidak kurang dari tiga hari, Muhidi Guntur tertangkap. Ia mati setelah dieksekusi oleh masa. Otak terburai keluar dari kepalanya, dan matanya melotot nyaris lepas. Dan kesebelas kawan-kawannya, tiga diantaranya mati sedang yang lain melarikan diri entah ke mana hilang seperti ditelan bumi.
Kematian Muhidi Guntur membuat darah Markeso Guntur mendidih. Ia adalah abang dari Muhidi Guntur. Sosoknya tinggi besar, dikenal sebagai kepala preman yang konon mempunyai kesaktian yang luar biasa. Ia kebal terhadap segala jenis senjata tajam juga senjata api. Karena kekebalannya itulah, ia dinobatkan sebagai kepala preman. Tak seorang pun berani mengusik, apalagi berusaha untuk merebut wilayah kekuasaannya. Sudah lima kali ia keluar masuk penjara, tapi pamor Markeso Guntur tak pernah luntur. Malah sebaliknya, semakin sering masuk penjara maka derajat kehebatannya makin meningkat.
Di siang itu, tiga puluh menit setelah azan sholat Dzuhur, dengan kemarahan yang memuncak, Markeso Guntur mengamuk di tengah kota laksana harimau luka. Amuknya melebihi kebringasan adiknya. Segala yang dilihat dan ada di depan matanya akan jadi sasaran. Sebuah mobil pribadi yang baru keluar dari shouroom ringsek dan terbakar. Orang-orang berlarian mencari selamat. Semua ketakutan.
Bagai orang yang mendapatkan bisikan gaib, ia pun tahu apa yang harus dilakukannya.
“Jika tak seorang pun yang mau mengakui siapa pembunuh adikku.” Ia berkata penuh kepastian, “maka itu berarti seluruh kota ini adalah pembunuhnya.”
Sehari kemudian di Senin itu, ketika matahari baru tenggelam satu jam yang lalu. Bersama sekitar empat puluhan anak buahnya, di saat orang-orang harus berkumpul ditengah-tengah keluarga mereka karena letih oleh aktivitas kerja, ia melakukan aksi paling brutal yang akan diingat sejarah sebagai saat-saat paling mengerikan. Dan aku pun dibawanya.
Mereka akan menghancurkan kota. Secara terang-terangan tanpa takut dengan aparat yang mulai siap siaga dengan senjata lengkap. Markeso Guntur maju dan diikuti lebih dari empat puluh anak buahnya. Penduduk kota bersama aparat berhadapan dengan pasukan kecil yang dipimpin langsung oleh jawaranya preman. Mereka siap untuk mati demi membela sesuatu yang aku sendiri tidak pernah mengetahuinya. Mengapa semuanya bisa terorganisir sedemikian rapi? Apakah memang benar hanya gara-gara kematian seorang Muhidi Guntur dan tiga begundalnya mereka rela untuk mati? Atau ada muatan-muatan kepentingan lain? Semuanya samar.
Perang itu akan terjadi pada detik ini. Kota itu sebentar lagi akan berubah menjadi lautan darah. Semuanya membawa senjata-senjata pembunuh yang mengerikan. Beberapa diantaranya menenteng senapan angin rakitan, yang lain mengayun-ayunkan klewang panjang dan pedang terhunus. Kota terdiam dalam puncak ketegangan.
Terdengar suara menggema bagai raungan traktor menembus sunyi. “Serbuuu!” Entah siapa yang memulai. Semuanya berwarna merah. Kurasakan tubuhku terus diayun-ayunkan olehnya entah sudah berapa kali, mungkin ratusan atau malah ribuan. Semuanya sama, hanya warna merah itu yang kulihat. Beberapa kali tubuhku menerjang pemuda itu!. Darah muncrat setelah aku menghujam masuk di dadanya. Sembilan luka menganga. Ia terkapar dan mati.
Situasi menjadi caos. Kedua belah pihak mulai saling membunuh. Satu-satu nyawa melayang menghadap Tuhannya dengan membawa dendam. Sukmanya melayang lepas dari tubuh dan tak tahu pengadilan apa yang akan dihadapinya di akhirat. Semuanya misteri, semisterinya pengetahuanku akan kasus ini, sampai detik ini. Dalam pelarian tiga hari - tiga malam yang penuh teror.
Grook…! Aku mendengar suara dari urat leher yang putus setelah tubuhku membabatnya. Darah muncrat membanjiri tanah. Histeris, raungan kesakitan dari tubuh-tubuh yang meregang nyawa membuat ragaku bergetar. Anak-anak kecil menjerit, perempuan-perempuan menjerit, rasa kemanusiaan ngumpet di ketiak Dajjal yang laknat.
‘Inikah yang namanya manusia.’
“Jangan kau ajak aku untuk terus membunuh...! Lemparkan aku ke dasar jurang yang dalam itu…!” Teriakku lantang, namun tak terdengarkan, ditelan teriakan perang yang memekakkan telinga. Suara jeritan. Suara erangan. Suara tembakan dari senjata-senjata laras. Suara-suara itu terus bergema menantang malam untuk terbungkam. Tak ada yang mampu menandingi kerasnya suara itu. Bintang pun tertunduk. Malaikat maut mengadu. “Tuhanku, ada apakah ini?”
Langit di atas kota memerah. Bumi pun berdarah. Manusia tak tampak lagi sisi kemanusiaannya
Empat jam berlalu. Yah, hanya empat jam. Hening. Kesunyian menyelimuti seluruh kehidupan yang sudah porak-poranda. Meninggalkan trauma yang tak mungkin terhapuskan dari ingatan, entah sampai kapan. Tragedi berdarah tergurat jelas di antara ingatan dan rasa frustrasi yang memuncak sampai mencapai titik kegilaan yang benar-benar gila. Akal pun tak mampu memikirkan, mengapa sampai terjadi pembantaian seperti itu?
Api masih terus membakar rumah-rumah yang tinggal seper empat. Empat puluh empat anak buahnya mati. kecuali dia!
Mereka mati diterjang peluru ataupun sabetan pedang dan klewang. Dan enam diantaranya dalam keadaan luka parah, walau akhirnya pupus setelah kepalanya dipenggal dan ditancapkan di ujung tombak sebagai simbol umbul-umbul kematian.
Tidak kalah memilukannya, sekitar tigapuluh empat penduduk kota itu pun mati. Lima aparat polisi mati, satu diantaranya luka parah. Beberapa wanita dan anak-anak itu pun menjadi korban. Mereka diyatim – piyatukan oleh perang.
Bapak dua orang anak itu tempurung kepalanya pecah. Si Agus yang penjaga toko itu tubuhnya terbelah menjadi dua mulai dari kepala sampai ke selangkangan. Dan dua belas orang-orang itu kepala mereka terlepas entah ke mana. Sungguh kematian yang tragis.
Melihat seluruh anak buahnya mati, ia melarikan diri menuju bukit hutan lindung di pinggiran kota. Tak tahu mengapa ia harus lari? Mungkinkah kesaktiannya itu hanyalah mitos belaka?
Penduduk kota mengejar. Seratus orang lebih dibantu polisi memburunya bagai seekor rusa yang akan dijadikan santapan harimau lapar. Mengaung melebihi apapun. Hutan itu merinding meringkuk berselimut malam sambil menutup mulut rapat-rapat. Tak berani bersuara.
Aku mendesah. Belum genap satu bulan aku bersamanya, sudah sembilan nyawa melayang. Sudah sembilan puluh sembilan luka menganga karena ulahku. Aku tidak pernah menginginkan hidup seperti ini. Hidup di antara kekerasan dan arogansi. Kehidupan yang tidak aku inginkan, namun terpaksa kujalani. Apa dayaku menolak kehendaknya? Aku tak punya kuasa. Ia adalah dalang dari itu semua. Dialah yang mengontrol hidupku. Hitam putihnya aku dia yang menentukan.
Selalu darah yang dipilih. Aku miris.
Gumamnya mengagetkan lamunanku. “Sekarang ini kalian bisa selamat dari mautku!” tiba-tiba ia bicara yang entah ditujukan untuk siapa. Mungkin penduduk kota itu. “Tunggu pembalasanku nanti. Hutang harta bayar harta, hutang darah bayar darah, hutang mati bayar mati!”. Suaranya tiba-tiba berat, dicengkeramnya aku sekuat tenaga hingga tubuh ini sakit. Aku berusaha protes, namun tak ada suara. “Tunggu sampai aku lolos dari kalian” lanjutnya…
“Bertaubatlah engkau Markeso Guntur”, nasehatku. Ingatlah! Perang kalian belum tentu benar di Mata Tuhan. Tak ada manusia yang memiliki kebenaran sejati.” Aku berbicara terus namun semuanya menguap dibawa angin. “Aku sudah lelah, lelah sekali. Berhentilah perang, atau jangan bawa aku lagi!” Protesku. Namun tetap teracuhkan.
Selalu begini, tangis dan keluh kesahku tidak pernah mampu menggugah perasaannya. Aku berteriak sampai serak, tapi tetap saja. Semuanya hilang. Bahkan kini membersihkan diri dari aliran darah sembilan nyawa dan sembilan puluh sembilan luka menganga itu pun aku tak mampu.
Suara itu kembali terdengar, yah,…orang-orang itu, cahaya puluhan sorot itu, kembali berputar berkilauan di antara ilalang dan pepohonan. Kembali wajahnya diteror ketakutan yang amat dasyat. Ia menggingil, matanya menoleh ke segala penjuru. “Apa itu?” Ia mulai gelagapan. Dengan cepat ia melompat. Kembali, tanpa memperdulikan keadaan yang pekat, penuh duri, batu-batu dan pohon yang tumbang kembali ia berlari.
Waktu sudah menunjukkan jam 02.00. Ia terus mengendap-endap. “Aku tidak boleh mati” tekatnya.
“Tangkap saja, kita cari dia sampai dapat, kalau perlu kita bakar bukit ini biar dia terpanggang!” teriak seorang di kejauhan. Ia menghentikan langkah dan memutuskan balik arah.
“Brengsek. Apa-apa main celurit. Segalanya diselesaikan dengan celurit. Emang nyawa ini punya bapaknya apa?” maki yang lain. Disusul dengan gemuruhnya suara tariu. Malam yang tak kunjung usai, bagi Markeso Guntur sosok yang menjadi tuanku itu. Napasnya semakin memburu. Sekujur tubuhnya masih dipenuhi lumpur kali. kedua tangannya gemetar, kaki dan kehidupannya pun gemetar diteror kematian yang terus mengejar. Aku hampir lepas dari genggamannya.
“Lari ke mana dia tadi?” Tanya seseorang, entah pada siapa. Tak terdengar jawaban. Tapi terdengar suara masa semakin mendekat.
“Cari! geledah semua! Kita sebar kelompok kita menjadi empat penjuru angin. Lima puluh orang patroli ke arah timur-selatan, dan lima puluh lagi menyisir wilayah barat-utara. Tidak boleh ada satu wilayah pun yang lolos dari pemantauan kita!” Seseorang mengkoordinir pencarian.
“Kalau ketemu kita penggal kepalanya dengan celuritnya sendiri!” sahut yang lain.
Ia tersengal. Keringat dingin semakin deras mengalir. Kini tak tahu kemana lagi ia akan sembunyi. Semua tempat sudah terkepung. Tanpa tahu arah yang akan di tuju, ia berlari ke sana kemari mencari perlindungan. Tapi tak ada tempat untuk berlindung. Adakah orang yang bisa menyelamatkan kami?
Yah, suara-suara itu masih terdengar di luar. Dapat kurasakan suara takut yang mencekam dirinya saat ini. Cahaya dan suara-suara itu kian bertambah. Dekat dan bergema menghancurkan kesunyian malam yang terasa lama.
Ia berhenti. Duduk di sebuah batu landai di antara dua pohon ara tua yang terkelupas kulit-kulitnya, entah karena umur atau terpanggang matahari tropis. Ia menarik napas dalam-dalam, perlahan sambil mengatur emosi dan ketakutannya agar terkendali. Ia terpejam dalam sekian detik. Ketakutannya tiba-tiba berubah menjadi ketenangan yang luar biasa tenang. Perlahan diletakkannya aku di atas daun pisang yang tumbang, dan tak lupa dibersihkannya darah yang lama mengering di tubuhku ini. Aku bersyukur akhirnya bersih juga tubuhku. Tapi entah sukmaku?
“Celurit”! ia membuka kata yang ditujukan kepadaku. Aku tak mempercayai dengan pendengaran dan penglihatanku. Aku terkejut sampai ke ubun-ubun. ‘Ia memanggilku’. “Aku bisa menangkap suaramu, keluh kesahmu, nasehatmu, keinginanmu dan lain sebagainya, untuk itu jangan kau terkejut!” Lanjutnya, hingga sedetik kemudian pertanyaanku habis. Aku hanya mendengarkan dalam ketidak percayaan.
“Dengarkan olehmu wahai celurit sahabatku! Di sini, di hadapanmu kini aku akan membuat pengakuan!” bagai seorang raja agung ia berbicara.
“Pertama; Aku minta maaf atas segala dosaku. Bukan kebenaran yang kuperjuangkan, melainkan sebuah harga diri.”
“Kedua; Aku tidak kalah, tapi aku tak mungkin hidup sementara kutahu seluruh sahabat-sahabatku telah mati. Kalau aku tetap hidup, roh mereka akan terus mengejarku. Aku tidak mau menghianati roh-roh mereka!” katanya dengan nada sedih.
“Ketiga; Aku akan mengakhiri hidupku sekarang tapi bukan oleh mereka, tidak juga kamu. Tidak juga bunuh diri yang jadi pilihanku.”
“Kempat; Kaulah saksi sejarah itu!”
“Kelima; Aku akan Moksa!”
Selesai bicara ia duduk bersila di tanah yang lembab dan sejurus kemudian ia pun memulai meditasinya. Tak ada suara, tak ada gerakan. Kami dikelilingi keheningan supranatural sampai ke titik zenit.
Kini ia pun moksa. Tubuhnya melebur berubah menjadi butiran-butiran cahaya. Ia pergi meninggalkan dunia dan juga aku. Dengan membuang seluruh raganya, membuang seluruh materi yang mengkungkung ruhnya untuk menghadap Tuhan guna mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang telah ia lakukan. Semuanya misteri, semisteri kemampuannya memahami bahasaku sebagai benda mati.
“Ia ada di sana!” aku tersentak, tiba-tiba suara itu terdengar dekat sekali dengan lokasi kami. Sedetik kemudian puluhan lampu sorot ditembakkan kearahku bagai sebuah pertunjukkan show artis di atas panggung. Suara gemuruh dan cahaya itu terus menghampiriku dekat dan semaki dekat.
“Aku menemukannya!” Salah seorang diantara ratusan masa itu berteriak dengan nyaring. “Ini dia manusia yang selalu menabuhkan genderang perang!...Ayo! Kita adili ia dengan pengadilan kita sendiri! Pengadilan yang tak akan tersentuh oleh hukum manusia apa pun. Kita penggal kepalanya.”
Tubuhku dikelilingi oleh ratusan manusia marah yang setiap saat siap untuk membunuh. Aku merinding. Tubuh ini seolah melayang, seperti melayangnya roh ke angkasa.
Markeso Guntur sudah moksa. Melebur menjadi cahaya menuju langit, tapi mengapa orang-orang itu mengayunkan senjatanya ke arahku? Bukankah aku hanya celurit yang teronggok di sini? Belum sempat kudapatkan jawaban, tiba-tiba sebongkah batu sebesar buah semangka menerjangku. Aku nanar. Dan semua menjadi gelap.
Aku terbangun dipagi itu. Dan mendapatkan diriku tergeletak di meja pengadilan sebagai barang bukti.
“Dapatkah kuceritakan kesaksianku di pengadilan ini?”

(Penulis adalah pengelola sebuah Lembaga Pendidikan Al-Kautsar
di Pemangkat)