Minggu, 08 Juni 2008

AIR MATA MENTARI


Oleh: Achmad Ridwan

Mentari menangis di pagi yang indah itu, kala kepodang kuning hinggap di pucuk sawit muda sambil menyisir sayap yang bermahkotakan angkasa. Keharuman serbuk sari kembang melur, memikat sekumpulan kupu-kupu ringan dalam kehidupan yang elok penuh warna-warni untuk menikmati sarinya. Tak luput dari itu, seratus embun pagi enggan untuk pergi sebelum mempersembahkan kesejukannya kepada pucuk dedaunan, karena ingin bercanda sejenak dengan surya yang baru selangkah jauhnya dengan bumi. Alam berusaha menitipkan ciuman dari wajahnya yang ayu kepadamu, Mentari! “Di beranda rumahmu kenapa engkau menangis?”
Gadis kecil itu sekarang mulai tumbuh dewasa, dengan rambut lurus bagai disisir angin berkibaran memberi daya tarik tersendiri, kulit langsat-manis ditambah dengan keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab, laksana lukisan Sang Pencipta yang Maha Indah. Tubuhnya tumbuh berubah menjadi bidadari yang sedang mekar, ia gadisku yang kini menginjak usia tujuh belasan.
“Engkau seharusnya tidak bersedih karena kesedihan itu tidak cocok untuk menghiasi senyuman dengan lesung pipit dan bibir tipismu Mentari.” Aku mengadu pada bumi yang berselimut kabut di tepian Kabupaten Pontianak.
“Aku menunggu ceritamu di 19 Januari 1999 itu sahabat, engkaulah yang dengan sabar mendengarkan cerita ibuku kala keputus asaan menderanya dengan dasyat. Yach..hanya engkau! Sampaikan itu kepadaku!” Mentariku menjawab dalam linangan air mata.
“Sayang, ketahuilah olehmu cerita itu begitu pahit untuk kau dengar. Jangan kau rusak kelembutan pagi ini dengan cerita pilu. Sebab sejarah itu nanti akan merong-rong akal dan pikiranmu sampai ke dasar samudera kesadaran, laksana rayap memakan sepertiga meranti tua itu, kekasih. Jangan!” Lanjutku meminta perhatiannya.
Aku selalu tak sanggup untuk mengenang peristiwa itu, dan rasa ketidak sanggupanku semakin bertambah hingga membuat tubuh ini semakin terpuruk dalam lingkaran kenestapaan yang panjang. Tragedi itu tergurat jelas dalam setiap detail ingatanku dan ratusan ingatan saudara-saudaraku yang dalam hidupnya terus dikelilingi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum tuntas. Aku semakin meringkuk di sini. ‘Di relokasi korban tragedi berdarah Kampung Mekar Sari.’ Ia adalah saksi perekam nyanyian jerit hati yang menyayat, melebihi suara lolong serigala dalam dunia malam hutan belantara Khatulistiwa.
Di pagi ini, aku harus bercerita mengenai itu, tetapi sanggupkah aku?
Seperti biasa, setiap minggu pagi di beranda rumah yang berukuran tidak lebih dari 12x20 meter persegi, Mentari menungguku.
Rumah itu sungguh kecil. Aku tak pernah menganggapnya rumah tapi tempat pembuangan sampah. Tak ada apa-apa di sana. Tak ada ruang tamu, tak ada sova, apalagi sederet lukisan indah penghias dinding. Hanya sebuah kamar dan seonggok perkakas alat dapur yang sedikit berkarat. Tak ada sumur dan wc, di sana mereka menjalani hidup dan terus berusaha menggapai impian yang terkadang gelap. Dengan sebatang pohan nangka muda yang belum berbuah di halaman dan tiga batang bunga kertas ditambah serumpun bunga melur, mencoba menghias dan memberikan keharuman sekitar. Aku melihatnya bukan sebagai keindahan melainkan sebuah keterpaksaan.
Mentari selalu menunggu ceritaku, persis seperti ribuan manusia-manusia kota menunggu koran dengan kehangatan secangkir kopi di saat yang sama. Persahabatan kami terjalin mesra dalam ikatan kemanusiaan.
Sudah seratus delapan puluh empat pagi kami lalui sejak perkenalan itu. Engkau selalu mendengar cerita indah dan ketenteraman Surga Firdaus. Kali ini engkau menagihku. Dan aku pun menyanggupi.
“Mentari, engkau terlahir bukan di sini, melainkan di sebuah desa yang jaraknya jauh tersekat oleh hamparan pulau. Di Rambeyan engkau lahir.” Aku memulai bercerita, dan ia pun membetulkan posisi duduknya hingga kami saling berhadapan. Sementara puluhan petani itu mulai melangkahkan kakinya menuju pematang, untuk mengolah tanah gambut menjadi butiran-butiran nasi yang mengisi perut biar tidak tergerut. Sungguh perjuangan yang berat.
“Aku mendengar kisah ini dari ibumu kala engkau masih merah, dengan darah yang belum tuntas benar dan air susu yang baru keluar tiga sampai empat tetes. Demi keselamatan dirinya dan kamu dari kekejaman perang; engkau dibawa mengungsi walau usiamu baru tiga hari.” Suaraku tersekat dalam himpitan dada yang perih, sejenak aku berhenti dan menarik nafas panjang untuk melenyapkan rasa itu.
Di tempat itu lah segala sesuatunya bermula. Malam itu sehari sebelum umat Islam merayakan kemenangan di Idul Fitri, tatkala ribuan insan beriman tinggal selangkah lagi menuju kemenangan, dalam perjuangannya mematahkan bujuk rayu setan melalui segentong pundi-pundi kenikmatan duniawi, sejarah perang Sambas tertoreh.
“The clash of civilitation! benturan peradaban” kulanjutkan cerita ini, berat dan penuh tekanan.
Malam itu, di dusun Setia Dharma Desa Parit Setia, terdengar teriakan minta tolong dari seorang warga yang melihat sekelebat orang masuk ke dalam rumahnya. Teriakan itu membangunkan para peronda untuk mendatangi asal suara itu dan melakukan pengepungan. Adalah Hasan, pemuda dari Desa Rambeyan tertangkap, dan oleh warga ia diamankan selanjutnya akan diserahkan kepada polisi pada keesokan harinya.
Namun apa yang terjadi malam itu sungguh berlainan dengan issu yang beredar di Rambeyan, bahwa Hasan telah disiksa oleh warga Parit Setia.
Adzan sholat Ashar berkumandang memanggil umat untuk bersujud menyerahkan jiwa dan raga ke Ilahi Robbi, laksana badai tiba-tiba menerjang dua ratus lebih tubuh yang dirasuki amarah, menghantam dan membabat mereka. Celurit dan golok berayun merobohkan tubuh-tubuh yang berusaha menghadang. Tiga nyawa melayang dari ubun-ubun warga Parit Setia di Ashar itu.
Firman-Nya menguap. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Sungguh lafi khusrin yang kutangkap, kerugian dan kehampaan terus menyelimuti perjalanan sejarah itu.
Api mulai terpercikkan. Ilalang kering terbakar merambat ke segala penjuru kehidupan yang di bawa angin. Menghembuskan panas. Memancarkan kilatan-kilatan lidah Dajjal. Kemudian menjelma menjadi burung nazar.
Tragedi Parit Setia, memicu segalanya.
Di sore itu, Minggu 21 Februari 1999 di Tebas, Rodi mengamuk. Setelah Bujang Lebik kernet bus meminta ongkos pembayaran atas dipakainya jasa transportasi, bukan bayaran yang diterima, namun celurit yang berkelebat membabat tangan dan kaki kanan Bujang. Laksana angin kisah itu menyebar ke seluruh Sambas. Bujang Lebik di issukan dibunuh oleh Rodi. Warga marah. Sungguh orang-orang etnis itu tidak bisa menghargai budaya orang lain, kemana pun mereka pergi celurit selalu ada di balik pinggang. Opini masyarakat mulai menyeruak. Bagai bara dalam sekam yang tersiram minyak, masyarakat yang masih marah dalam tragedi Parit Setia makin memuncak, menerobos mengoyakkan kesadaran dan membuangkan rasa kemanusiaan.
Senin 22 Februari di tengah malam, hanya ada satu bintang muncul karena musnah tersapu badai yang membawa dendam. Tiga ratus orang mengepung Rodi dalam wajah yang bertopengkan kebengisan. Adalah senapan lantak yang menyambut hingga pelipis ini tersayat dan justru dari sinilah dendam kesumat mulai membara dalam panas yang menghanguskan.
Kenapa engkau bernama Rodi? Haruskah karena kamu tragedi ini tertorehkan? Semuanya terjadi dengan cepat.
Perang berkecamuk di pesisir pantai. Di Tebas, Pemangkat, Jawai, Sambas, Selakau – sang nazar terus mengepakkan sayap mengikuti bau anyir darah, berputar di angkasa merah sambil mencakar batu-batu. Bau itu terus merambat masuk wilayah Samalantan dan Monterado. Kemarahan berkecamuk di Desa Jirak, Merabu, Kampung Jawai, dan seluruh jagat di bumi Borneo.
Sang Nazar memakan bangkai di Semparuk, Kelambu, Penjajab dan Tebas. Sejuta galon darah tersiramkan di tanah, cacing dan lalat menggeliat dan menari diantara setumpuk otak yang terburai melebihi gundukan pasir di tepian laut lepas. Ber mil-mil jauhnya, sungai-sungai menghanyutkan kepala yang disimpan di balik belukar dan pohon tumbang, lalu membusuk memberikan aroma kengerian kepada angin dengan harapan tercium oleh wanginya kesturi. Engkau mati di negeri yang berjarak ribuan kilo meter dari bangsa asalmu, Madura!
Sejenak aku berhenti menerawang dan tenggelam dalam ngilu.
Selang sehari berikutnya, perang bergerak dan mengibarkan benderanya di tanah Pemangkat. Puting beliung belum reda dan terus menyapu kesadaran dengan hembusan angin yang bergemuruh melebihi ledak, melengking melebihi jeritan, meraung melebihi badai, dan terkapar melebihi maut. Api membakar tiga puluh tiga rumah dan menerjangkan berpuluh nyawa di siang itu. Pedang, klewang, senapan lantak, kapak, belati, panah semuanya membabat dengan mata terpejam sambil tidak menghiraukan ayat-ayat. Semua terus mengibarkan panji-panji putih. “Entah sampai kapan?” Aku mengadu pada Mentari.
Mentari menggigil, ia menggeserkan tubuhnya sejengkal dari ku. Ditatap sekumpulan kumbang sawah terbang dengan meninggalkan suara berdengung menyelinap di kedua telinga kami. Rambutnya yang lurus bagai disisir angin tiba-tiba berubah menjadi belati yang menusuk jantungku. Kepodang kuning yang tadi hinggap di sawit muda, kini menjelma menjadi rajawali dengan cakar yang siap mencabik kulit-kulitku. Dengan gagap aku merayu Mentari.
“Hukum tak mampu menghukum kesadaran yang mulai lepas Mentari, dan segalanya tak terhindarkan. Empat hari perang itu terjadi. Namun di empat kehidupan ingatan itu tak akan hilang. Air mata menetes terbawa oleh tetesan darah saudara-saudaraku se-iman yang mulai kering, maka tabahkanlah hatimu. Jangan salahkan agama. Ini semua hanya kekhilafan dan keangkuhan manusia.” Mentari mendekapku dalam rengkuhan yang gamang, sambil menyeka keperihan yang mengendon dalam jiwa, ia pun berdendang “Satu-satu, daun berguguran, jatuh ke bumi, dimakan usia, tak terdengar tangis, tak terdengar tawa, redalah reda…” Aku teringat akan lagumu kawan.
Di beranda rumahmu aku pun menangis. “Aku teringat akan ibumu Mentari.”
Nurjati! Baru kemarin engkau melahirkan. Dokter dan bidan belum menyuruhmu untuk pulang, sementara selang oksigen masih menempel di kedua rongga pernafasanmu. Tubuhmu rapuh, melebihi kerapuhan ranting kering. Darah persalinanmu belum tuntas, sementara air susumu baru tiga sampai empat tetes memberi kehidupan pada anakmu. Kini mengapa engkau meringkuk di Mekar Sari?
“Perang membawaku ke sini Along” Nurjati menjelaskan kepada ku di suatu hari tepat enam tahun yang lalu. “Rumahku terbakar. Entah berapa puluh nyawa melayang. Lelaki, perempuan, orang tua bahkan sebagian anak-anak pun tidak luput dari amukan. Mereka mati sebelum sempat bertanya “Engkau siapa? Ada apa ini? Apa salahku? Kenapa…? Suamiku pun begitu. Aku hanya membawa dia, si bayi mungil yang kuajak berlari di titian kematian walau baru kemarin ia hidup, karena aku tak mau ia mati kembali. Aku akan melawan ketakutan, mengumpulkan tenaga pada tulang-tulangku yang pucat pasi untuk berani berlari walau rahimku terbakar. Aku ingin Mentari senyum di pagi esok.”
“Di tempat pengungsian ini, aku dan sekian puluh ribu saudara Maduraku meminta perlindungan, di GOR Pangsuma perjuangan kami belum usai untuk melawan kematian. Bukan senjata, namun kelaparan, gizi buruk, sanitasi dan sejuta penyakit berusaha merenggut nyawa kami, hanya Mentari yang memberiku kekuatan.” Nurjati menangis mengenang itu.
“Tapi itu masa lalu Along, kini aku dan mereka sudah menang melawan penderitaan. Kami bangun hidup ini dengan kaki-kaki kami sendiri, tanpa putus asa. Dan yang penting bagiku adalah Mentari tetap tersenyum di tiap pagi.” Ku ucapkan kalimat itu dengan suara lantang sampai tiga kali, dan ia pun bangkit.
Mentari berjalan empat langkah mendekati pohon nangka muda itu, ia keluarkan secarik kertas lantas menulis sebuah puisi dengan polpen yang tak bertutup di antara cabang pohon yang rendah. Dan sekian menit berikutnya sebuah puisi tertulis. Sedikit dan sederhana, namun memberi arti. Ia tempel puisinya di batang dengan kekuatan di antara keindahan paras yang memiliki kemiripan dengan mutiara dari Arab. Aku membaca.
“Ibuku terjungkal hidupnya di sini. Di kampung ini. Yang berderet seratus duapuluh rumah tanpa kepastian. Kecuali ilalang liar dan hutan keras untuk di olah sebagai ladang di tanah gambut khatulistiwa. Di mana mataharinya mampu membakar batu-batu menjadi sekubik abu yang membumbungkan berlaksa-laksa kabut asap. Bangkitkan aku anak-anakmu ibu. Dengan cinta bukan peperangan…”
Masihkah engkau berduka Mentari?
Tidak!.....

(Penulis adalah pengelola sebuah Lembaga Pendidikan Al-Kautsar dan Sanggar Teater Babak di Pemangkat RT 1/RW 1 No. 06)lihat cerpenku di cerpen.net

3 komentar:

Ni'amul Ausath mengatakan...

Mas..., judul kok tumpang tindih..!!!., mana yang dipakai ? yang ndak di pakai hapus aja ... bisa nggak ?

Kurniadi Bulhani mengatakan...

rodi itu dari desa mana?karena aku pernah punya teman dan dia adalah dari suku orang yang anda ceritakan itu,waktu itu rodi yang aku kenal masih SMP,

ridwan kautsar mengatakan...

untuk bang kurniadi, saya tidak tau persis dengan tokoh yang bernama 'rodi' asalnya dari mana, saya hanya mendengar dan membaca informasi yang ada, lalu kucoba untuk membuat menjadi cerpen. maaf ya...